BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Klaim Presiden AS Donald Trump militer Iran sudah lumpuh, ternyata salah besar, pasukan Iran tetap mampu bombardir Israel dan lakukan perlawanan.
Isu pasukan Iran di bantu Tiongkok dan Rusia juga makin menambah pusing pasukan AS, yang terlanjur yakin menang perang dalam waktu singkat, padahal faktaya tidak!
Di kutp dari tribunnews.com, Minggu (08/03/2026), Garda Revolusi Iran mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangan rudal terhadap kilang minyak di Haifa, sebagai balasan atas penargetan fasilitas energi di Teheran.
Dalam sebuah pernyataan, Garda Revolusi mengatakan bahwa pasukannya “menyerang kilang minyak Haifa dengan rudal Kheibar Shekan sebagai tanggapan atas penargetan kilang minyak Teheran,” sebagai tanda eskalasi timbal balik antara kedua pihak dan penargetan fasilitas energi vital.
Meskipun sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer.
Tapi Iran mampu melancarkan serangan balasan secara cepat terhadap Amerika Serikat dan Israel Hal.
Hal ini dimungkinkan berkat doktrin militer yang dikenal sebagai “Mosaic Defense” atau pertahanan mozaik.
Serangan balasan Iran tidak hanya menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga berbagai target di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, fasilitas minyak, hingga kapal tanker yang berlayar di sekitar kawasan tersebut.
Serangan pendahuluan yang dilakukan Amerika Serikat pada 28 Februari menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Khamenei serta komandan pasukan elit Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour.
Namun, alih-alih melemahkan kemampuan militer Iran, negara tersebut justru mampu melancarkan serangan balasan hampir seketika.
“Kemampuan tersebut berasal dari strategi “Mosaic Defense”, sebuah doktrin militer yang mulai dikembangkan Iran pada 2005 setelah pengalaman Amerika Serikat dalam perang Irak dan Afghanistan,” ungkap seorang analis militer Jepang kepada Tribunnews.com Minggu (8/3/2026).
Berbeda dengan sistem militer konvensional yang sangat bergantung pada pusat komando, doktrin ini menyebarkan kewenangan militer ke berbagai wilayah.
Dengan demikian, meskipun pusat kepemimpinan diserang, unit-unit militer di daerah tetap dapat beroperasi secara mandiri.
Korps Garda Revolusi Iran diketahui memiliki 31 komando regional di berbagai provinsi.
Para komandan daerah diberi kewenangan luas untuk mengambil keputusan operasional, termasuk meluncurkan serangan atau melakukan operasi militer tanpa menunggu instruksi langsung dari pusat.
Selain itu, fasilitas produksi senjata seperti drone dan sistem rudal juga tersebar di berbagai wilayah Iran.
Pasukan Iran juga dilatih dalam taktik perang gerilya untuk menghadapi konflik jangka panjang.
Sebelum wafat, Khamenei pernah memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap konflik dengan Iran berpotensi berkembang menjadi perang regional.
Peringatan tersebut kini tampaknya menjadi kenyataan setelah kematiannya memicu aktivasi strategi pertahanan mozaik dan memperluas konflik ke kawasan Teluk.
Bagi Amerika Serikat, situasi ini menunjukkan bahwa “decapitation strike” atau strategi menargetkan kepemimpinan tertinggi negara tidak serta-merta melumpuhkan kemampuan militer Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 1 Maret melalui platform X (sebelumnya Twitter) menegaskan bahwa serangan terhadap ibu kota Teheran tidak akan melemahkan kemampuan militer negaranya.
“Pemboman terhadap ibu kota tidak memengaruhi kemampuan tempur kami. Berkat sistem pertahanan mozaik yang terdesentralisasi, kami yang akan menentukan kapan dan bagaimana perang ini berakhir,” tulisnya.
Namun, sistem komando yang tersebar juga menimbulkan risiko baru.
Dengan kewenangan militer yang tersebar di berbagai wilayah, terdapat kekhawatiran bahwa konflik dapat semakin sulit dikendalikan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 7 Maret menyatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara yang menggantikan fungsi pemimpin tertinggi telah memutuskan untuk tidak menargetkan negara-negara tetangga yang tidak terlibat langsung dalam serangan terhadap Iran.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara di kawasan setelah beberapa serangan drone Iran dilaporkan mengenai wilayah negara tetangga, termasuk Azerbaijan.
Meski demikian, para pengamat menilai belum jelas sejauh mana keputusan dari pemerintah pusat dapat sepenuhnya mengendalikan operasi militer yang telah tersebar di berbagai wilayah tersebut.
Strategi ini dikembangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai respons terhadap ancaman militer dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam sistem tersebut, kekuatan militer tidak sepenuhnya bergantung pada satu pusat komando, tetapi dibagi menjadi banyak unit kecil yang dapat bertempur secara mandiri.
Konsep “mosaic” sendiri diambil dari istilah mozaik, yakni potongan-potongan kecil yang jika digabungkan membentuk satu kesatuan besar.
Dalam konteks militer, setiap unit pasukan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri apabila komunikasi dengan pusat komando terputus.
Menurut sejumlah analis militer, Iran membagi kekuatan pertahanannya ke dalam unit-unit regional yang tersebar di berbagai provinsi.
Setiap komandan wilayah memiliki kewenangan untuk mengoperasikan pasukan, meluncurkan serangan balasan, maupun melakukan operasi gerilya jika terjadi konflik berskala besar.
Pendekatan ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan yang menargetkan pusat komando militer atau pimpinan negara, yang dalam strategi militer modern sering disebut sebagai “decapitation strike”.
Selain pasukan reguler, sistem pertahanan mozaik juga melibatkan milisi rakyat seperti Basij, yang dapat dimobilisasi untuk memperkuat pertahanan lokal dan melakukan operasi perlawanan apabila wilayah Iran diserang.
Pengamat menilai doktrin ini merupakan bagian dari strategi perang asimetris Iran. Secara konvensional, kekuatan militer Iran dinilai tidak sebanding dengan militer negara-negara Barat.
Karena itu, Iran memilih pendekatan yang menekankan penyebaran kekuatan, mobilitas tinggi, serta kemampuan bertahan dalam perang jangka panjang.
Strategi pertahanan mozaik juga memanfaatkan kondisi geografis Iran yang luas dan bergunung-gunung. Medan tersebut dinilai dapat memperlambat pergerakan pasukan musuh sekaligus memberikan keuntungan bagi operasi pertahanan dan perang gerilya.
Dengan sistem ini, Iran berupaya memastikan bahwa negara tersebut tetap mampu memberikan perlawanan meskipun pusat komando militer mengalami kerusakan atau komunikasi nasional terganggu dalam situasi perang.***







