BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – itu dan bertanya. “Kenapa locianpwe tertawa? Apakah locianpwe mengenal Kakekku?”
“Ha-ha-ha! Mengenal Jai-hwa-sian Sie Hoat?
Ha-ha, dia sainganku terbesar dahulu! Dia masih hutang beberapa pukulan dariku. Dan kau…. ha-ha-ha, engkau cucunya mencela aku karena aku membelai seorang gadis cantik?
Sungguh lucu, dan ingin aku melihat muka Sie Hoat kalau mendengar dan melihat ini semua ha-ha-ha-ha!”
“Locianpwe, apa yang locianpwe maksudkan….?” Han Han bertanya dengan suara keras, hatinya penuh rasa penasaran.
Akan tetapi Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya tertawa bergelak, lalu seperti orang gila ia memandang ke atas, ke arah awan yang berarak di langit.
“Dan kini cucumu menjadi pelayanku, Sie Hoat! Kalau engkau masih hidup, hayo datanglah dan jemputlah cucumu, ha-ha-ha!”
Kemudian matanya memandang ke arah tubuh Bhok Khim yang masih rebah miring di atas tanah dan dengan langkah lebar menghampiri, lalu menyambar tubuh itu yang diangkatnya.
“Locianpwe tidak boleh….!”
Akan tetapi ucapan Han Han ini terhenti karena lengannya telah ditangkap oleh Ouwyang Seng dan tubuhnya diseret pergi dari tempat itu.
“Engkau bocah tak tahu diri, berani sekali mengganggu suhu! Apakah engkau sudah bosan hidup? Anak kecil mencampuri urusan orang tua, sungguh lancang.
Lebih baik kaubantu aku mencari batu-batu bintang. Kau pemberani, aku suka kepada anak pemberani dan aku tidak senang melihat kau dibunuh suhu kalau dia sudah marah.
Kalau kau baik kepadanya, siapa tahu engkau akan diambil murid seperti aku!”
Han Han yang terus diajak pergi sampai di tepi sungai yang banyak batu-batu karangnya, mengerti juga betapa tak mungkin ia dapat mencegah perbuatan kakek botak yang demikian sakti itu.
Sedangkan dalam pegangan Ouwyang Seng saja ia sudah tidak mampu berkutik. Ia tertarik mendengar tentang bintang dan tentang kemungkinan ia diambil murid.
“Untuk apakah batu bintang? Dan batu bintang macam apa yang dimaksud?” tanyanya sambil memperhatikan ketika Ouwyang Seng mulai memilih-milih batu di antara batu karang yang banyak terdapat di situ.
“Kau lihat baik-baik batu ini dan bantu mencari sebanyaknya, nanti kuceritakan,” jawab Ouwyang Seng. Han Han melihat batu yang dipilih bocah itu dan melihat bahwa batu itu kecil-kecil.
Paling besar sebesar tangannya dan bentuknya seperti pecahan batu karang, runcing-runcing dan tajam, akan tetapi warnanya kemerahan.
Ia lalu membantu dan mencari batu-batu seperti itu yang tidak banyak terdapat di situ, harus dicari dan dipilih dengan teliti baru dapat menemukan beberapa potong. Sambil mencari Ouwyang Seng lalu memberi keterangan.
Seperti yang pernah didengar bocah ini dari gurunya, ratusan tahun yang lalu banyak orang menyaksikan benda besar seperti bola api melayang turun di daerah lembah Sungai Huang-ho ini.
Benda itu menurut dugaan banyak orang pandai adalah sepotong batu besar pecahan dari bintang, karena itu, melihat bahwa di daerah itu kemudian tampak banyak sekali pecahan-pecahan batu berwarna kemerahan, batu-batu ini disebut batu bintang.
Akan tetapi ketika orang berusaha mempergunakannya, batu-batu yang kecil ini tidak ada gunanya, bahkan untuk……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



