BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Bulan tidak berada di situ dan bebas dari kematian hanya tinggal beberapa orang saja. Dengan dendam sedalam lautan, Lauw-pangcu mengurus jenazah semua anak buahnya.
Dibantu oleh Kang-lam Sam-eng yang kini tinggal dua orang, Khu Cen Tiam dan Liem Sian saja karena sumoi mereka, Bhok Khim, terculik oleh Si Kakek Sakti. Dua orang anak murid Siauw-lim-pai ini pun di samping amat menyesal, juga amat marah dan sakit hati.
“Sudah kucegah tadi ji-wi enghiong bersama Bhok-lihiap untuk tidak mencampuri urusan kami,” demikian Lauw-pangcu berkata penuh penyesalan.
“Sekarang terbukti, selain ji-wi terluka, juga Bhok-lihiap terculik. Ahh, semua ini gara-gara Pek-lian Kai-pang. Lebih celaka lagi, malapetaka ini dibawa datang oleh muridku sendiri, si jahanam Sie Han!”
Khu Cen Tiam dan Liem Sian menghibur ketua kai-pang yang berduka itu.
“Pangcu jangan berkata demikian. Kita sama-sama anggauta Ho-han-hwe, sudah bersumpah sehidup semati menghadapi penjajah dan para pengkhianat bangsa.
Lebih baik kita lekas bereskan pekerjaan di sini dan cepat mengumpulkan saudara-saudara di Ho-han-hwe untuk merundingkan hal ini dan agar dapat menolong Sumoi dari tangan iblis itu.”
“Ahhhhh, iblis itu terlampau sakti. Di dunia ini hanya ada lima orang datuk besar yang ilmu kepandaiannya amat luar biasa. Kita di Ho-han-hwe, siapakah kiranya yang akan mampu melawannya?” demikian keluh Lauw-pangcu dengan hati gentar kalau ia teringat akan sepak terjang Si Setan Botak tadi.
“Di antara saudara kita banyak yang lihai, kalau perlu aku akan memberi tahu para susiok dan juga tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw. Sute tadi telah menantangnya tiga hari lagi. Dalam waktu tiga hari kita harus dapat mendatangkan bala bantuan untuk membunuh iblis itu dan menolong sumoi.”
Demikianlah, setelah penguburan sekian banyaknya jenazah itu selesai, tiga orang gagah ini bersama Sin Lian yang dalam usia sekecil itu sudah mengalami hal-hal yang menegangkan dan pembunuhan-pembunuhan massal yang mengerikan.
Pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kota Tiong-kwan lalu menghubungi para pejuang yang bergabung dalam perkumpulan Ho-han-hwe.
Sibuklah mereka semua itu mengundang orang-orang pandai dalam persiapan mereka menghadapi Kang-thouw-kwi Gak Liat.
Adapun Kang-thouw-kwi Gak Liat yang menunggang kuda sambil memangku tubuh Bhok Khim yang tertotok lemas, diiringkan oleh Ouwyang Seng dan Han Han, pergi menuju ke timur menyusuri pantai Sungai Huang-ho.
Setelah melakukan perjalanan setengah hari, mereka tiba di pantai yang berbatu-batu dan kakek itu berkata.
“Berhenti di sini!” Ia meloncat turun, masih memondong tubuh Bhok Khim.
“Di sinikah tempatnya batu-batu bintang yang dicari suhu?” tanya Ouwyang Seng.
Si Setan Botak mengangguk. “Kau ajak Han Han mencari di pantai, sebanyak mungkin. Kau sudah tahu macamnya, seperti yang pernah kuperlihatkan dulu, Kongcu.
Batu-batu itu penting sekali untuk latihanmu. Nah, aku mau mengaso bersama Si Manis ini!”……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



