BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Juga Pat-jiu Sin-kauw sudah saling berkedip dengan Panglima Dailuba yang menyambutnya.
Mereka pun tanpa banyak cakap sudah saling bertanding, menggunakan tangan kosong karena kedua orang ini merupakan ahli-ahli silat tangan kosong.
Pertempuran terjadi dengan seru dan karena pandainya mereka berempat bersandiwara, Bu-koksu sendiri tidak pernah menyangka bahwa mereka itu tidaklah bertanding sungguh-sungguh.
“Ha-ha-ha, dua orangmu telah bertempur melawan dua orang pembantuku. Tinggal kita berdua. Marilah kita coba-coba, Bu-koksu!” kata Pek-mau Seng-jin sambil menggerakkan tongkatnya menusuk.
“Cring-cring-tranggg!” Keduanya terpental ke belakang ketika tongkat itu tertangkis oleh golok bergelang. Kemudian keduanya maju lagi saling serang dengan dahsyat.
Gerakan Bu-koksu amat dahsyat dan kuat, goloknya mengeluarkan bunyi mengerikan dan golok yang berat itu diputar sampai berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata.
Namun gerakan tongkat di tangan Pek-mau Seng-jin lebih cepat lagi, tampak sinar keemasan bergulung-gulung menyelubungi gulungan sinar golok.
Bahkan dalam hal tenaga sin-kang, tingkat Pek-mau Seng-jin masih lebih tinggi sehingga lewat empat puluh jurus, Bu-koksu selalu terdesak dan terhimpit!
Ang Hok Ci yang sedang gelisah menyaksikan betapa Bu-koksu dan dua orang pengawalnya terdesak, mengambil keputusan untuk membunuh saja dua orang tawanan yang berbahaya itu.
Dia sudah mencabut goloknya, langsung dia bacokkan ke arah leher Kam Han Ki. “Trangggg!”
Ang Hok Ci terkejut dan melompat mundur, memandang Suma Hoat yang sudah menangkis goloknya dengan pedang.
“Suma-kongcu! Apa yang kaulakukan ini? Apakah engkau hendak memberontak dan membela musuh?” Suma Hoat tersenyum.
“Hemm, orang she Ang, ini bukan urusan negara, melainkan urusan pribadi! Sudah dijanjikan bahwa siapa yang keluar sebagai pemenang, berhak atas diri kedua orang tawanan ini.
Mengapa engkau bendak bersikap curang dan membunuh tawanan?” “Bagus! Ayahmu tentu akan senang sekali mendengar akan pengkhianatanmu ini!”
Ang Hok Ci memaki dan menyerang dengan golok menyambar ke arah leher Suma Hoat, sedangkan tangan kirinya melancarkan pululan dengan tenaga Jit-goat-sin-kang ke arah dada Suma Hoat.
“Cringggg…. dukkkk!” Tubuh Ang Hok Ci terlempar ke belakang, ketika goloknya tertangkis oleh pedang Suma Hoat.
Sedangkan pukulan dengan tenaga Jit-goat-sin-kang tadi ditangkis pula oleh Suma Hoat dengan ilmu yang sama, akan tetapi jauh lebih kuat.
Hal ini dapat dimengerti karena kalau Ang Hok Ci memperoleh Ilmu Jit-goat-sin-kang dari hasil curian ketika dia menyelundup ke lembah orang kusta.
Adalah Suma Hoat menerima gemblengan langsung dari Bu-tek Lo-jin, bahkan dia merupakan murid terpandai!
Dengan pedangnya, Suma Hoat mematahkan belenggu yang mengikat kaki tangan Siauw Bwee dan membebaskan totokannya.
“Terima kasih, ternyata engkau seorang sahabat yang baik, Suma Hoat!” Siauw Bwee berkata singkat lalu meloncat mendekati suhengnya yang masih pingsan.
Membukakan belenggu kaki tangan Han Ki dan membe…..BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



