BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Presiden AS Donald Trump kini makin di anggap pikun, sebab selalu bikin pernyataan yang berubah-ubah.
Awalnya dia gempur Iran karena ingin musnahkan nuklir, yang sejak dulu di bantah Teheran, kini malah sibuk soal Selat Hormuz.
Mengutip Al Jazeera, sikap keras Iran muncul ketika Presiden Donald Trump masih mengirimkan sinyal yang berbeda-beda terkait penyelesaian konflik.
Dalam wawancara dengan Real America’s Voice, Trump mengatakan pemerintahannya masih membuka ruang perundingan dengan Teheran.
Namun di sisi lain, ia juga kembali melontarkan ancaman bahwa Amerika Serikat siap melakukan serangan militer apabila proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan.
“Saya sedang bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik,” kata Trump.
Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan dirinya memiliki dua pilihan, yakni membiarkan Iran terus tertekan secara ekonomi atau melancarkan serangan yang jauh lebih besar.
Pernyataan yang berubah-ubah tersebut menunjukkan bahwa hingga kini strategi Washington terhadap Iran masih belum sepenuhnya konsisten.
Pakistan dan Qatar Terus Dorong Jalur Diplomasi
Di tengah kebuntuan negosiasi, Pakistan mulai mengambil peran sebagai mediator. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan resmi ke Teheran dan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama politik, ekonomi, perdagangan, budaya, hingga keamanan regional, sekaligus menjadi bagian dari upaya Islamabad membantu mendorong penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Sebelumnya, Qatar juga menyampaikan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjutan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan prioritas para mediator saat ini adalah memastikan Selat Hormuz dapat kembali dibuka serta menjaga peluang terciptanya gencatan senjata di kawasan.
Meski demikian, Iran menegaskan kesepakatan teknis dengan Oman mengenai jalur pelayaran tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan kembali dibuka selama tuntutan politik Teheran belum dipenuhi.***








