BEBASBARU.ID, INTERNASIONAL – Presiden AS Donald Trump makin paranoid, setelah sebelumnya di ancam di bunuh Pemerintah Iran, kini Kelompok Perlawanan Islam di Irak (IRI), aliansi milisi yang didukung Iran juga incar kepalanya.
IRI menggelar sayembara berhadiah 10 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp179,4 miliar bagi siapa pun yang berhasil membunuh Presiden AS, Donald Trump.
Dikutip dari IDN Times, Sabtu (18/07/2026), berdasarkan laporan media pemerintah Iran, Press TV, dana itu diklaim berasal dari donasi anggota dan para pendukung IRI.
Dalam pernyataan tertulis bertanggal 16 Juli 2026, IRI menyebut imbalan tersebut berlaku bagi individu, kelompok, maupun institusi yang mengeksekusi langsung atau memfasilitasi pembunuhan Trump.
Kelompok itu menyatakan langkah tersebut sebagai balas dendam atas serangan pesawat tanpa awak (drone) AS di Bagdad pada 2020 yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani dan Wakil Panglima Milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.
Trump membela operasi militer AS
Ketegangan kembali meningkat setelah Trump membela operasi militer AS pada 2020 dalam pertemuan di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi.
Berdasarkan laporan media Arab, Asharq Al-Awsat, Trump secara terbuka membanggakan perannya dalam pembunuhan tersebut.
“Saya membunuhnya di masa pemerintahan pertama saya. Jika tidak, ceritanya mungkin akan berbeda hari ini… Saya benar-benar berpikir para pemimpin Iran takut kepada Soleimani,” kata Trump, dikutip Times of India.
Trump juga menyebut seorang tokoh Irak yang disebutnya sangat jahat turut tewas dalam insiden di bandara tersebut tanpa menyebut nama Muhandis.
Menanggapi pernyataan itu, Al-Zaidi mengatakan bahwa saat peristiwa tersebut terjadi, ia belum terjun ke dunia politik.
Dikutip dari Hindustan Times, IRI menilai kesombongan kriminal Trump mencerminkan tanda paling nyata dari runtuhnya moral pemerintah AS.
Dan tindakan tersebut hanya akan membawa kehinaan serta keburukan abadi bagi sang pembunuh.
Keluarga Muhandis mengecam sikap Al-Zaidi
Respons pasif Al-Zaidi di Gedung Putih memicu kecaman keras dari keluarga Muhandis. Dalam rilis resminya, keluarga Muhandis menyatakan bahwa siapa pun yang menjauh dari masa lalu terhormat negaranya telah memutus hubungan dengan akar bangsanya.
Sedangkan orang yang masa lalunya dipenuhi kebohongan tak layak memimpin masa depan.
Ancaman pembunuhan dari milisi Irak ini menambah panjang daftar risiko keamanan yang dihadapi Trump.
Sebelumnya, Trump berhasil selamat dari beberapa upaya pembunuhan selama kampanye pemilihan presiden 2024.
Termasuk penembakan yang menyerempet telinganya di Butler, Pennsylvania, serta rencana bersenjata di Florida.
Para jaksa AS sebelumnya juga sempat mengungkap dugaan adanya individu yang terhubung dengan Iran yang berupaya merekrut orang untuk membunuh Trump.
Namun, pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan tersebut.***







