BEBASBARU.ID, GOSIP – Peran sosok Dilan memang sangat melekat pada sosok artis Iqbaal Ramadhan, bahkan penggantinya belum mampu lepas dari bayang-bayang mantan penyanyi Coboy Junior itu.
Kini, di film Dilan ITB 1997 (2026) kembali menghadirkan interpretasi baru dari karakter ikonik Dilan yang selama ini lekat di hati penonton Indonesia.
Dikutip dari IDNtimes, Senin (04/05/2026, dalam acara “Nonton Bareng Dilan ITB 1997” di Cinépolis Senayan Park, Jakarta Selatan, Kamis malam (30/04/2026) lalu, antusiasme penonton terlihat tinggi, terutama untuk melihat bagaimana sosok Dilan versi terbaru ditampilkan.
Ariel Noah di temani Niken Anjani, dan Raline Shah yang ikut menyapa penonton. Dalam sesi wawancara media usai pemutaran, Ariel pun buka suara soal respons netizen terhadap dirinya yang kini memerankan karakter Dilan.
Peran yang sebelumnya sempat dimainkan oleh Arbani Yasiz di Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 (2024) dan Iqbaal Ramadhan di film pertama dan keduanya.
Mengambil alih karakter yang sudah punya “wajah” di benak penonton tentu bukan perkara ringan. Ariel pun tidak menampik adanya tekanan saat memerankan Dilan. Ia menyadari ekspektasi penonton sudah terbentuk sejak lama, lewat beberapa adaptasi sebelumnya.
“Kalau beban itu pasti ada. Cuman kan ya itu namanya juga (peran),” ujar penyanyi dan aktor bernama asli Nazril Irham ini.
Walau tak mudah, ia coba melihatnya sebagai bagian dari proses seorang aktor yang harus siap menghadapi berbagai tantangan peran. Terlebih, ini comeback dirinya di film panjang non-animasi setelah Sang Pemimpi (2009).
“Kalau misalnya kita meranin satu tokoh yang udah ikonik dan diganti-ganti, itu rasanya pasti ada (beban). Kayak Batman, kayak Superman juga pasti ada,” lanjut Ariel.
Alih-alih terlalu khawatir dengan komentar netizen, Ariel memilih untuk bersikap lebih santai. Baginya, karakter seperti Dilan bukan lagi milik satu orang, melainkan sudah menjadi milik bersama sejak diperkenalkan ke publik.
“Cuman itu kan gak bisa dicegah, itu milik mereka. Begitu penulisnya melempar itu ke publik, dia (karakter Dilan) milik publik,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa sebagai aktor, yang bisa dilakukan hanyalah memberikan usaha terbaik. Selebihnya, biarlah penonton yang menilai dan merespons sesuai perspektif masing-masing.
“Jadi apa pun pendapat publik kita dengerin aja. Tapi kita yang penting udah berusaha 100 persen,” tuturnya.
Menariknya, Ariel tidak mencoba membuat versi Dilan yang benar-benar baru. Ia justru memilih pendekatan observatif, menyerap karakter Dilan dari kehidupan nyata di sekitarnya.
“Kalau gue pribadi memang ngelihat Dilan, mungkin orang-orang lain juga liat Dilan itu kayak kebanyakan orang Bandung dan pemuda yang ada di Indonesia. Main motor, pacaran dan segala macem. Jadi versi itu ada banyak banget sebetulnya. Dan khususnya buat yang versi Bandung aja, yang geng motor sekaligus itu gue punya temen banyak yang sama kayak gitu. Sendiri juga ngalamin,” katanya.
Untungnya, sang sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq selaku penulis novelnya tak melarang Ariel dalam mengeksplorasi karakternya. Mereka justru memberi kebebasan untuk memilih “versi” Dilan yang cocok untuk Ariel.
“Jadi nggak menciptakan sih lebih kayak, ‘Oke gue serap aja apa yang ada.’ Dan dari Ayah Pidi sama Mas Fajar juga lumayan membebaskan, ‘Lu mau versi yang mana? Kan lu pernah ngalamin itu. Coba aja keluarin’,” tutupnya.
Dengan berbagai pendekatan yang diambil, menarik untuk melihat bagaimana penonton Indonesia akan menerima Dilan versi terbaru ini. Apakah akan menuai pro dan kontra, atau justru menghadirkan perspektif segar?***








