BEBASBARU.ID, MAHAKARYA-CERBUNG – Ouwyang Seng melihat betapa gurunya membungkuk dan mencium leher Bhok Khim yang menggeliat dan meronta lemah, tertawa bergelak, kemudian menangkap tangan Han Han dan ditarik sambil membentak.
“Bujang malas, hayo bantu aku mencari batu bintang!”
Akan tetapi sekali merenggutkan tangannya, Han Han melepaskan diri. Matanya terbelalak marah memandang ke arah Gak Liat Si Setan Botak yang sudah duduk di atas batu-batu kecil yang halus sambil memangku tubuh Bhok Khim dan mempermainkan rambut gadis itu yang hitam panjang.
Han Han dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh kakek botak itu terhadap Bhok Khim dan terbayanglah semua peristiwa jahanam yang menimpa diri kakak perempuannya dan ibunya.
Melihat Bhok Khim ia merasa seperti melihat cicinya sendiri yang telah lenyap, sungguhpun pandang mata Bhok Khim padanya bukanlah seperti pandang mata cicinya yang penuh kasih sayang.
Dengan langkah lebar ia menghampiri Gak Liat dan setelah tiba di depannya, Han Han menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya nyaring.
“Locianpwe adalah seorang yang sakti, dapat mengalahkan pengeroyokan puluhan orang. Akan tetapi mengapa kini melakukan perbuatan yang amat hina dan rendah?”
“Han Han, tutup mulutmu yang busuk!” Ouwyang Seng membentak marah, akan tetapi Si Setan Botak tertawa dan memberi isyarat dengan tangannya kepada muridnya untuk mundur.
Kemudian ia memandang wajah Han Han. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan kakek botak itu berseru perlahan.
“Demi iblis….! Matamu mata iblis….! Eh, bocah, perbuatan hina dan ren dah apa yang telah kulakukan?”
Han Han menuding ke arah Bhok Khim yang menggeliat-geliat di pangkuan kakek botak itu. “Lepaskan cici itu dan aku baru dapat menganggap locianpwe seorang gagah dan sakti yang tidak melakukan perbuatan hina!”
Si Setan Botak memandang terbelalak, lalu menunduk dan memandang wajah Bhok Khim yang cantik manis, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Ini kauanggap perbuatan hina dan rendah? Ha-ha-ha-ha!” Dengan sengaja kakek ini lalu mengelus-elus pipi Bhok Khim yang halus, kemudian jari-jari tangannya menjalar ke bawah, meraba-raba leher dan dada.
Gadis itu menggeliat dan meronta lemah, akan tetapi karena ia berada dalam keadaan tertotok, ia tidak dapat melepaskan diri, kemudian meramkan mata dan merintih perlahan.
Kemarahan Han Han memuncak. Depgan mata berapi ia memandang kakek botak itu dan membentak, “Locianpwe! Kau tidak akan menghina wanita!”
Kakek itu mengangkat mukanya memandang sambil tertawa, akan tetapi begitu pandang matanya bertemu dengan sinar mata Han Han, seketika tawanya terhenti, ia terbelalak, mulutnya ternganga dan terdengarlah ia berkata perlahan, “Aku…. aku….”
Tentu saja Ouwyang Seng menjadi bengong menyaksikan keadaan suhunya ini, maka ia berseru keras dan heran, “Suhu….! Apa artinya ini….?”
Sesungguhnya, pandang mata dan suara Han Han yang sedang marah itu mengandung tenaga mujijat yang tidak sewajarnya. Demikian kuat dan……BERSAMBUNG
SUMBER: Microsoft reader



